Pengelolaan dan pemanfaatan kemiri (Aleurites moluccana) di Kebun Hutan (Forest Garden) oleh masyarakat suku dayak meratus di desa Emil Baru Kecamatan Mantewe

Agustino Agustino, Zainal Abidin, Trisnu Satriadi

Abstract


Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengelolaan dan pemanfaatan kemiri (Aleurites moluccana) sebagai hasil hutan bukan kayu (HHBK) dalam sistem kebun hutan yang dipraktikkan oleh masyarakat Dayak Meratus di Desa Emil Baru, Kecamatan Mantewe, Kalimantan Selatan. Data dianalisis menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif untuk mengidentifikasi tahapan pengelolaan, pola pemanfaatan, dan kontribusi pendapatan rumah tangga. Penelitian ini menggunakan metode observasi lapangan, wawancara mendalam, serta teknik purposive sampling terhadap 10 orang petani kemiri aktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan kemiri dilakukan melalui tahapan yang beradaptasi dengan kearifan lokal, meliputi persiapan lahan dengan sistem tebas bakar terkendali, penggunaan sumber benih lokal, penanaman manual tanpa jarak tanam tetap, pemeliharaan minimal, serta pemanenan tradisional dengan cara mengumpulkan buah yang gugur secara alami. Kebun hutan yang dikelola memiliki luas lahan antara 2–6 ha dan telah diusahakan selama 6–13 tahun oleh petani berusia 35–52 tahun. Produksi kemiri berkisar antara 22–35 kg per rumah tangga per tahun, dengan rata-rata produksi sebesar 28,5 kg per rumah tangga dan frekuensi panen sekitar dua kali per tahun. Harga jual kemiri berada pada kisaran Rp17.500–Rp40.000 per kg. Produksi tersebut menghasilkan tambahan pendapatan rumah tangga sebesar Rp385.000–Rp1.400.000 per tahun, dengan rata-rata kontribusi pendapatan rumah tangga sebesar Rp1.116.000 per tahun. Kontribusi pendapatan kemiri terhadap total pendapatan rumah tangga mencapai 4,0–6,4%, dengan rata-rata kontribusi sebesar 5,4%. Secara ekologis, kebun hutan berbasis kemiri berperan dalam mendukung konservasi tanah, pemeliharaan keanekaragaman hayati, pengendalian erosi, serta stabilitas lanskap pada ekosistem pegunungan. Penelitian ini menegaskan pentingnya kebun hutan kemiri sebagai model pengelolaan HHBK berbasis kearifan lokal yang mendukung keberlanjutan ekosistem pegunungan.


Keywords


agroforestry; Aleurites moluccana; hasil hutan bukan kayu; kebun hutan; kearifan lokal

Full Text:

PDF

References


Abidin, Z., & Hafizianor. (2019). Strategi pengelolaan hasil hutan bukan kayu (HHBK) berbasis kearifan lokal di kawasan Pegunungan Meratus Kalimantan Selatan. Jurnal Sylva Scienteae, 5(2), 122–132.

Anshari, R., Hafizianor, & Badaruddin. (2022). Performasi pengelolaan kebun hutan (forest garden) kayu manis di Desa Lok Lahung Kecamatan Loksado Kabupaten Hulu Sungai Selatan. EnviroScienteae, 18(2), 141–150.

Anwar, M., Hafizianor, & Asysyfa. (2023). Kearifan lokal masyarakat Dayak Meratus dalam pengelolaan hutan secara tradisional di Desa Atiran. Sylva Scienteae, 6, 115–124.

Anwar, M. A., & Noor, G. S. (2014). Potensi, sifat dan manfaat kayu kemiri pengganti kayu hutan alam di Kalimantan Selatan. Banjarbaru: Balitbang Provinsi Kalimantan Selatan.

Badan Standardisasi Nasional. (1998). SNI 01-4462-1998: Kemiri. Jakarta: Badan Standardisasi Nasional.

Baharuddin, M., Makkarennu, & Rahmi, M. (2021). Pemanfaatan dan kontribusi kemiri (Aleurites moluccana) sebagai komoditi HHBK terhadap pendapatan petani di Kecamatan Bontocani Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Jurnal Perennial, 17(1), 26–34.

Direktorat Budidaya Tanaman Tahunan. (2006). Pedoman budidaya kemiri. Jakarta: Direktorat Jenderal Perkebunan.

Hafizianor, R., Anwar, M., & Asysyfa. (2022). Kearifan lokal masyarakat Dayak Meratus dalam pengelolaan hutan tradisional di Kalimantan Selatan. Sylva Scienteae, 6, 115–124.

Hart, R. A. (2001). Forest gardening: Rediscovering nature & community in a post-industrial age. Totnes, UK: Green Earth Books.

Indah, L., Elfiana, & Martina. (2017). Analisis kelayakan usaha pengolahan biji kemiri di Desa Panggoi Kecamatan Muara Dua Kota Lhokseumawe. Pharmaceutical Biology, 1(2), 125–133.

Jumadil, A., Rusdiana, O., & Rahman, M. (2019). Kebun hutan sebagai model agroforestri masyarakat pedesaan di Kalimantan Selatan. Banjarmasin: Universitas Lambung Mangkurat Press.

Kim, H., Sefcik, J. S., & Bradway, C. (2017). Characteristics of qualitative descriptive studies: A systematic review. Research in Nursing & Health, 40(1), 23–42. https://doi.org/10.1002/nur.21768

Lestari, I., Elfiana, & Martina. (2017). Analisis kelayakan usaha pengolahan biji kemiri di Desa Panggoi Kecamatan Muara Dua Kota Lhokseumawe. Jurnal Sosial Pertanian, 1(2), 125–133.

Makkarennu, A. S., Mahbub, & Ridwan. (2020). An integrated business model canvas on prioritizing strategy: Case study of small-scale non-timber forest product enterprises in Indonesia. Small-scale Forestry, 19(4), 1–14. https://doi.org/10.1007/s11842-020-09451-7

Muthmainnah, Sribianti, I., & Juliati. (2021). Analisis nilai manfaat ekonomi tanaman kemiri (Aleurites moluccana) di Desa Bungin Kecamatan Bungin Kabupaten Enrekang. Jurnal Eboni, 3(1), 1–10.

Noor, M., & Rahman, M. (2018). Peran kebun hutan dalam pengelolaan hutan berbasis masyarakat di Kalimantan Selatan. Jurnal Hutan Tropis, 6(2), 55–63.

Roslinda, E., Kartikawati, S. M., & Safitri, R. (2019). Kearifan lokal masyarakat adat dalam pengelolaan hasil hutan bukan kayu di Kalimantan. Jurnal Hutan Lestari, 7(2), 563–574.

Rusdiana, O., & Jumadil, A. (2020). Model agroforestri tradisional di Pegunungan Meratus: Perspektif ekologi dan sosial ekonomi. Jurnal Kehutanan Tropika, 8(1), 23–34.

Sari, D. P., & Nugroho, A. (2018). Aktivitas antibakteri dan antiinflamasi ekstrak biji kemiri (Aleurites moluccana). Jurnal Farmasi Indonesia, 15(3), 121–127.

Satriadi, T., Anwar, M., & Irawan, R. (2021). Model partisipatif pengelolaan hutan adat dalam mendukung pemberdayaan masyarakat di Kalimantan Selatan. Jurnal Manajemen Hutan Tropika, 27(3), 235–244. https://doi.org/10.29244/jmht.27.3.235-244

Setyowati, E. (2010). Pemanfaatan tanaman obat tradisional Indonesia dan potensi bioaktifnya. Jakarta: Pusat Penelitian Bioteknologi LIPI.

Sukardi, L., Idris, M. H., & Dipokusumo, B. (2021). Penguatan kapasitas dalam perencanaan dan pengembangan usaha hasil hutan bukan kayu (HHBK) bagi petani pesanggem hutan kemasyarakatan (HKm) Sesaot Lombok Barat. Jurnal Pengabdian Magister Pendidikan IPA, 4(3), 139–142.

Suryanto, P., Tohari, & Putra, E. T. S. (2017). Sistem agroforestri tradisional dan perannya dalam konservasi tanah dan air di Kalimantan. Jurnal Manusia dan Lingkungan, 24(3), 145–156.

Wardah. (2008). Keragaan ekosistem kebun hutan (forest garden) di sekitar kawasan hutan konservasi: Studi kasus di Taman Nasional Lore Lindu Sulawesi Tengah. Bogor: Institut Pertanian Bogor.

Wartman, P., Acker, R. A., & Martin, R. C. (2018). Temperate agroforestry: How forest garden systems combined with people-based ethics can transform culture. Sustainability, 10, 2246. https://doi.org/10.3390/su10072246

Yusran. (2005). Tanaman kemiri dan manfaat tanaman kemiri. Bogor: Governance Brief.




DOI: http://dx.doi.org/10.32522/ujht.v10i1.25870

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2026 Agustino Agustino, Zainal Abidin, Trisnu Satriadi

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

Ulin : Jurnal Hutan Tropis

Forestry Faculty of Mulawarman University

Jl. Penajam Kampus Gunung Kelua Samarinda 75123

E-Mail: ulin.jhuttrop@fahutan.unmul.ac.id

Support Contact

Lisa Andani
Phone: 0831-5359-8753
Email: ulin.jhuttrop@gmail.com

Description: Description: UJHT Visitors Stats Description: Creative Commons License
ULIN: Jurnal Hutan Tropis by http://e-journals.unmul.ac.id/index.php/UJHT/ eISSN: 2599-1183 is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International