KEUNIVERSALAN BUDAYA NUSANTARA DALAM PEMALI DILARANG DUDUK DI ATAS BANTAL: SEMIOTIKA ROLAND BARTHES
DOI:
https://doi.org/10.30872/jbssb.v4i3.4129Abstract
Keanekaragaman budaya di Nusantara harus dikelola menjadi penguat budaya nasional. Salah satunya dengan intensitas penelitian budaya dan nilai-nilainya. Tulisan ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang mengumpulkan dan menganalisis salah satu kekayaan budaya di Indonesia, yakni budaya pemali. Pemali memang bertebaran pada setiap etnik di Indonesia. Olehnya itu, tulisan ini memilih satu pemali yang berlaku secara universal pada 21 etnik di Nusantara. Pemali tersebut adalah dilarang duduk di atas bantal, karena nanti bisulan. Pemali ini dianalisis dengan menggunakan kajian semiotika Roland Barthes, yakni pemaknaan dua lapis pada sebuah tanda. Pemaknaan tersebut adalah pemaknaan denotasi dan konotasi yang membentuk penanda dan petanda. Hasil analisisnya menunjukkan bahwa pada tahap pertama, bisul bermakna sebagai satu penyakit jorok dan menjijikkan. Selanjutnya, pada tahap kedua, penyakit jorok menjadi penanda yang menghasilkan petanda bahwa orang yang mengalami penyakit bisulan adalah orang sering melanggar adat kepantasan, yakni sering menduduki bantal yang fungsinya hanya sebagai alas kepala. Konotasi ini menjadi mitos dalam masyarakat sehingga akhirnya diterima dan dipraktikkan lalu menjadi ideologi. Ideologi dalam hal ini adalah nilai-nilai kultural dan historis tentang bantal, bisul, dan kepala yang telah memasuki sistem budaya masyarakat di Nusantara.
References
Adung, N., Arifin, M., & Rijal, S. (2020). Pemali dalam Budaya Etnik Manggarai Nusa Tenggara Timur di Samarinda: Suatu Tinjaun Semiotika. Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya, 4(2), 250-263.
Akhlak, A., Arifin, M., & Rijal, S. (2019). Pemali dalam Masyarakat Etnik Banjar di Kota Samarinda: Suatu Tinjauan Semiotika. Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya, 3(2), 121-130.
Amiruddin, Arifin, M., & Rijal, S. (2019). Tanda dalam Pemali yang Dilaksanakan Masyarakat Etnik Mandar di Kota Samarinda Provinsi Kalimantan Timur: Tinjauan Semiotika Charles Sanders Peirce. Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya, 3(4), 463-476.
Barthes, R. 2017. Elemen-Elemen Semiologi. Yogyakarta: Basa-basi.
Budiman, K. 2010. Semiotika Visual: Konsep, Isu, dan Problem Ikonisitas. Yogyakarta: Jalasutra.
Imran. 2017. “Penerapan Nilai-nilai Pendidikan Karakter dalam Tradisi Lisan Pemali Masyarakat Bugis Desa Polewali Kecamatan Lainea Kabupaten Konawe Selatan”. Skripsi Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri Kendari. http://digilib.iainkendari.ac.id/804/. Diakses 27-07-2020.
Kemendikbud. 2020. “Kamus Besar Bahasa Indonesia” edisi Kelima (daring). kbbi.kemdikbud.go.id. Diakses tanggal 27-07-2020.
Macshury, A., Arifin, M., & Rijal, S. (2020). Pemali dalam Budaya Etnik Paser di Kabupaten Paser: Suatu Tinjauan Semiotika. Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya, 4(2), 315-329.
Mulkan, D. 2008. “Pemali Tradisi Lisan Budaya Leluhur Sunda.” http://kabarindonesia.com/berita.php?pil=20&dn=20080907190015. (diakses pada 27-07-2020).
Rohidi, T. 2000. Kesenian dalam Pendekatan Kebudayaan. Bandung: STISI Press Bandung.
Sobur, A. 2003. Semiotika Komunikasi. Bandung: Rosdakarya.
Syahfitri, N., Arifin, M., & Rijal, S. (2019). Pemali dalam Masyarakat Etnik Bugis di Kota Samarinda: Suatu Tinjauan Semiotika. Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni dan Budaya, 3(2), 221-232.
Zoest, Van Aart dan Panuti Sudijman. 1996. Serba-serbi Semiotika. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
Downloads
Published
Issue
Section
License
![]()
Every work in Ilmu Budaya: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Budaya is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Under the following terms:
Attribution — You must give appropriate credit, provide a link to the license, and indicate if changes were made. You may do so in any reasonable manner, but not in any way that suggests the licensor endorses you or your use.
ShareAlike — If you remix, transform, or build upon the material, you must distribute your contributions under the same license as the original.
Authors who publish with this journal agree to the following terms:
- Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution License that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal.
- Authors can enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work (See The Effect of Open Access).