Ketergantungan Pakan Antropogenik dan Titik Ungkit Mitigasi Konflik Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) di Cagar Alam Moga

Authors

  • Anita Lusiawati Jenderal Sudirman University
  • Imam Widhiono Jenderal Sudirman University
  • Muslihudin Muslihudin Jenderal Sudirman University

DOI:

https://doi.org/10.32522/fm1ak221

Keywords:

Anthropogenic food, conflict hotspots, enclave nature reserve, leverage point mitigation, Macaca fascicularis

Abstract

Konflik manusia-satwa liar yang melibatkan kera ekor panjang ( Macaca fascicularis ) di kawasan mikro-enklave Cagar Alam Moga didorong oleh fragmentasi habitat dan kepadatan pemukiman di sekitarnya. Studi ini bertujuan untuk menganalisis korelasi ketersediaan makanan dengan perilaku mencari makan, mengevaluasi dampak sosial-ekonomi, dan memetakan titik-titik konflik. Dengan menggunakan kerangka Sistem Sosial-Ekologis (SES) metode campuran, kami mengumpulkan data ekologis (pengambilan sampel pemindaian 96 jam), data sosial (42 wawancara), dan data spasial (Estimasi Kepadatan Kernel berbasis GIS). Hasil mencatat 3.617 pertemuan dengan Jumlah Minimum yang Diketahui Hidup (MKA) sebanyak 254 individu. Pola makan sangat bergantung pada subsidi makanan antropogenik (59,6%) dibandingkan dengan pakan alami (40,4%), membentuk pergerakan zonal dari habitat inti (±72-76 individu/hari) menuju koridor tepi (±25). Kesimpulannya: (1) faktor penarik makanan antropogenik (59,6%) secara signifikan mengubah wilayah jelajah kera ke arah ruang domestik; (2) perambahan ini menimbulkan ancaman langsung (kerusakan harta benda, agresi, penjarahan makanan), diperparah oleh lemahnya strategi penanggulangan lokal dan praktik penyediaan; (3) konflik membentuk titik panas absolut di pemukiman barat Desa Banyumudal karena konektivitas lanskap yang kuat. Mitigasi harus menargetkan titik pengaruh titik panas barat ini melalui pengelolaan sampah yang tahan terhadap satwa liar, penegakan larangan penyediaan melalui Peraturan Desa, dan penguatan penghalang fisik.

References

Anggrita, R., Fahmi, H., dan Rahmatullah, R. (2024). Gangguan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) pada kebun campuran di Kabupaten Kuningan. Publikasi Ilmiah Uniku, 11(2), 15–29.

Creswell, J. W., dan Creswell, J. D. (2023). Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches (6th ed.). SAGE Publications.

Fitria, W., Nur Bambang, A., dan Wasiq Hidayat, J. (2020). Human and long-tailed macaque conflict in Central Java, Indonesia. E3S Web of Conferences, 202, 06011.

Gross, E., Jayasinghe, N., Brooks, A., Polet, G., Wadhwa, R., dan Hilderink-Zuidweg, J. (2021). A step-by-step guide to the C2C: Conflict to Coexistence approach. WWF International.

Hansen, M. F., Ang, A., Trinh, T. T. H., Sy, E., Paramasivam, S., Dimalibot, J., Jones-Engel, L., Ruppert, N., Griffioen, C., Gray, R., Phiapalath, P., Doak, N., Kite, S., Nijman, V., Fuentes, A., dan Gumert, M. D. (2022). Macaca fascicularis ssp. fascicularis. The IUCN Red List of Threatened Species 2022, e.T195351957A221668305.

Hill, C. M. (2017). Primate crop feeding behavior, crop protection, and conservation. International Journal of Primatology, 38(2), 385–400.

Kilonzi, J. M., dan Ota, T. (2023). Adaptive co-management frameworks for protected areas integrating local livelihoods and wildlife conflict mitigation. Journal of Animal Environment, 12(4), 1–15.

Metananda, A. A., Sutopo, Gunawan, Nurjaman, Dani, R., Ruhyat, Y., Sutopo, Ahmad, Aprianto, A., Naibaho, J., dan Afrianto, W. F. (2024). Human-macaque conflicts at a human settlement in Riau Province, Indonesia. Biodiversitas Journal of Biological Diversity, 25(9), 2940–2958.

Mutmahiyah, M. (2023). Tingkat Agresivitas Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) terhadap Wisatawan di Wisata Alam Candi Batur, Kabupaten Pemalang [Skripsi]. Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA.

Nyhus, P. J. (2016). Human-wildlife conflict and coexistence. Annual Review of Environment and Resources, 41, 143–171.

Pfeifer, M., Lefebvre, V., Peres, C. A., Banks-Leite, C., Wearn, O. R., Marsh, C. J., Butchart, S. H. M., Arroyo-Rodríguez, V., Barlow, J., Cerezo, A., Cisneros, L., D’Cruze, N., Faria, D., Hadley, A., Harris, S. M., Klingbeil, B. T., Kormann, U., Lens, L., Medina-Rangel, G. F., ... dan Ewers, R. M. (2017). Creation of forest edges has a global impact on forest vertebrates. Nature, 551(7679), 177–191.

Prasad, K., Ramesh, T., dan Kalle, R. (2025). Geospatial identification of human–wildlife conflict hotspots in the Southern Western Ghats. Journal of the Indian Society of Remote Sensing, 53(12).

Rifaie, F., Sulistyadi, E., Fitriana, Y. S., Inayah, N., Maharadatunkamsi, M., Prameswari, W., dan Rusmadipraja, I. A. (2024). Spatial patterns of human–long-tailed macaque (Macaca fascicularis) conflicts in Java Island: A comparison of two secondary data sources. Journal of Asia-Pacific Biodiversity, 17(4), 653–669.

Setiawan, A., Nugroho, B., dan Wibowo, C. (2023). Pendekatan sistem sosio-ekologis untuk mitigasi konflik manusia dan satwa liar di Jawa. Forest and Society, 7(1), 112–125.

Sha, J. C. M., dan Hanya, G. (2013). Temporal food resource correlates to the behavior and ecology of food-enhanced long-tailed macaques (Macaca fascicularis). Mammal Study, 38(3), 163–175.

Sugiyono. (2022). Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Alfabeta

Downloads

Published

2026-10-28

Issue

Section

Articles