Kebutuhan Afiliasi Dengan Intensitas Penggunaan Media Sosial Pada Wanita yang Telah Menikah
DOI:
https://doi.org/10.30872/psikoborneo.v8i3.5382Keywords:
Intensitas penggunaan media sosial, Kebutuhan afiliasiAbstract
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kebutuhan afiliasi dengan intensitas pengguna media sosial pada wanita yang telah menikah di kota Samarinda. Intensitas adalah suatu ukuran kuantitatif dari sebuah kegiatan yang dilakukan oleh wanita yang telah menikah dan masih aktif mengunakan media sosialnya yang didasari rasa senang dengan kegiatan-kegiatan yang dilakukannya di media sosialnya tersebut. Kebutuhan afiliasi adalah sebuah kebutuhan untuk menjalin hubungan yang hangat dengan orang lain. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif. Subjek dalam penelitian berjumlah 100 wanita yang telah menikah. Metode pengumpulan data menggunakan dua skala yaitu kebutuhan afiliasi dan intensitas penggunaan media sosial. Analisa data yang digunakan dengan uji analisis korelasi kendall’s tau-b dengan bantuan program Statistical Package for Sosial Sciences (SPSS) 25.0 for windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang sedang antara kebutuhan afiliasi dengan intensitas pengguna media sosial pada wanita yang telah menikah dengan nilai hasil r = 0.459 dan p = 0.000 (p < 0.05) yang menunjukkan kedua variabel tersebut memiliki korelasi yang sedang. Hubungan yang sedang artinya variabel kebutuhan afiliasi memberikan sumbangan yang efektif terhadap intensitas penggunaan media sosial tetapi terdapat faktor-faktor lain selain kebutuhan afiliasi yang dapat berhubungan dengan intensitas penggunaan media sosial.References
Azwar, S. (2013). Metode penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Alwisol. (2014). Psikologi kepribadian. Malang: UMM Press
Chasiru, Z, A. (2013). Psikologi perkembangan. Surabaya: UIN Sunan Ampel.
Djikmans, C. (2015). A stage to engage: Social media use and corporate reputation. Tourism Management. (1).
Galang, I & Adijanti. (2015). Hubungan afiliasi dengan intensitas penggunaan jejaring social twitter pada remaja akhir. Jurnal Psikologi Udayana, 2(1), 48-58.
Hefrina & Ari. (2013). Kebutuhan afiliasi dengan intensitas mengakses facebook pada remaja. Jurnal ilmiah psikologi terapan, 1(1), 76-85.
Jalonen, H. (2014). Social media and emotions in organizational knowledge creation. Journal. ACSIS. (2) 1371 – 1379.
Laksana, N. (2018). Ini jumlah total pengguna media sosial di Indonesia.Diakses https://techno.okezone.com/read/2018/03/13/207/1872093/inijumlah-total-pengguna-media-sosial-di-indonesia.
Martaniah. (1984). Psikologi pendidikan. Yogyakarta: Fakultas Psikologi UGM.
Nasrullah, R. (2015). Media sosial perspektif komunikasi, budaya dan sosioteknologi. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.
Rubin, A. (2011). Living in the age of emotional rationality: Wendell Bendell, social media and the challenges of value change. Journal. Futures. (43) 583 – 589.
Sarvamangala & Sharmista. (2016). Effects of social media. International journal of scientific research and education, 4, (6), 5461-5465.
Wahyu, N, R. (2018). Komunikasi keluarga pada pasangan suami-istri yang terlibat cyber love melalui sosial media. Skripsi. Fakultas Dakwah danKomunikasi. Universitas Islam Negeri Sunan Ampel. Surabaya.
Yoseptian. (2012). Kebutuhan afiliasi dan keterbukaan diri pada remaja pengguna facebook. Jurnal Psikologi Universitas Gunadarma. Depok: Universitas Gunadarma.