Resiliensi Remaja Penyandang Tunanetra Pada SLB A Ruhui Rahayu di Samarinda
DOI:
https://doi.org/10.30872/psikoborneo.v1i1.3275Abstract
Pada umumnya penyadang tunanetra seringkali digambarkan sebagai figur yang memiliki kekurangan. Ketunaan yang dialaminya tersebut akan membuat remaja merasa malu, minder, tidak percaya diri untuk bersosialisasi dengan lingkungannya dan merasa tidak berguna. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana resiliensi remaja penyandang tunanetra. Jenis penelitian ini adalah kualitatif yaitu penelitian yang berusaha untuk menggambarkan atau melukiskan objek yang akan diteliti berdasarkan fakta yang ada di lapangan. Subjek dalam penelitian ini adalah tiga anak remaja dengan kategori usia 12 hingga 22 tahun dan lima orang informan terdiri dari orang tua dan guru. Hasil dari penelitian ini secara umum ketiga subjek memiliki resiliensi, baik aspek I am, I can, dan I have. Secara umum ketiga subjek mampu mengembangkan potensi yang dimiliki, percaya diri, menerima kondisi fisiknya, bertanggung jawab, dapat mencari bantuan, mampu bersosialisasi, menyadari dukungan orang lain dan memiliki hubungan baik.Pada umumnya penyadang tunanetra seringkali digambarkan sebagai figur yang memiliki kekurangan. Ketunaan yang dialaminya tersebut akan membuat remaja merasa malu, minder, tidak percaya diri untuk bersosialisasi dengan lingkungannya dan merasa tidak berguna. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana resiliensi remaja penyandang tunanetra. Jenis penelitian ini adalah kualitatif yaitu penelitian yang berusaha untuk menggambarkan atau melukiskan objek yang akan diteliti berdasarkan fakta yang ada di lapangan. Subjek dalam penelitian ini adalah tiga anak remaja dengan kategori usia 12 hingga 22 tahun dan lima orang informan terdiri dari orang tua dan guru. Hasil dari penelitian ini secara umum ketiga subjek memiliki resiliensi, baik aspek I am, I can, dan I have. Secara umum ketiga subjek mampu mengembangkan potensi yang dimiliki, percaya diri, menerima kondisi fisiknya, bertanggung jawab, dapat mencari bantuan, mampu bersosialisasi, menyadari dukungan orang lain dan memiliki hubungan baik.References
Al-Mighwar, M. (2006). Psikologi remaja: petunjuk bagi guru dan orang tua. Bandung: Pustaka Setia.
Banaag, C. G. (2002). Resiliency, street children, and substance abuse prevention. Prevention Preventif, 3.
Chaplin, J. P. (2006). Kamus Lengkap Psikologi. (terjemahan Kartini Kartono). Jakarta: PT. Raja Grafindo
Goleman, D. (2002). Emotional intelligence (terjemahan Termaya). Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama
Grothberg, E. (1995). A Guide to Promoting Resilience in Children: Strengthening the Human Spirit. The Series Early Childhood Development: Practice and Reflections. Number 8. The Hague: Benard van Leer Voundation.
Grothberg, E. (1999). Tapping Your Inner Strength. Oakland, CA: New Harbinger Publication, Inc.
Hurlock, E. B. (2004). Developmental Psychology: Psikologi Perkembangan. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Linquanti, R. (1992). Using Community-Wide Collaboration To Foster Resiliency in Kids: A Conceptual Framework. San Fransisco: Far West Laboratory fo Educational Research and Development.
Moleong, L. J. (2008). Metode penelitian kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Mönks, F. J., Knoers, A. M. P., & Haditono, S. R. (2006). Psikologi perkembangan: pengantar dalam berbagai bagiannya. Yogyakarta: UGM Press.
Rahardja, D., & Sujarwanto. (2010). Pengantar Pendidikan Luar Biasa (Orthopedagogik). Surabaya: UD. Mapan.
Reivich, K., & Shatte, A. (2002). The resilience factor: 7 essential skills for overcoming life's inevitable obstacles. New York: Broadway Books.
Santrock, J. W. (2007). Adolescence (Perkembangan remaja). Jakarta: Erlangga
Siebert, A. (2005). The resiliency advantage: Master change, thrive under pressure, and bounce back from setbacks. San Francisco: Berrett-Koehler Publishers, Inc.
Somantri, S. (2006). Psikologi anak luar biasa. Bandung: Refika Aditama.
Sumali, E., Sukamto, M. E., & Mulya, T. W. (2008). Efektivitas Hipnoterapi terhadap Penurunan Body Dissatisfaction pada Remaja Akhir. Humanitas, 5 (1), 47-57.