KERAGAMAN BUDAYA NUSANTARA DALAM PUISI ETNOGRAFI LUKA SEBUAH NEGERI KARYA M. JUNUS MELALATOA KAJIAN MULTIKULTURALISME
DOI:
https://doi.org/10.30872/calls.v0i0.13143Keywords:
multikulturalisme, puisi etnografi, semiotik, budaya nusantaraAbstract
Luka sebuah Negeri adalah buku kumpulan puisi etnografi karya M. Junus Melalatoa, etnografer dan guru besar antropologi di Universitas Indonesia. Buku ini berisi dua puluh satu sajak yang membicarakan kebhinekaan budaya, bahasa, agama, ras, dan suku di Indonesia. Membaca dan menelaahnya merupakan hal yang penting sebagai upaya untuk menyebarkan paham multikulturalisme di tengah kemajemukan budaya. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan bentuk dan makna keragaman budaya Indonesia yang termanifestasikan dalam kumpulan puisi etnografi tersebut. Penelitian ini termasuk penelitian kepustakaan dengan metode deskriptif kualitatif. Peneliti menggunakan teori semiotik yang dikembangkan oleh Michael Riffaterre. Telaah puisi dilakukan dengan cara menerapkan pembacaan heuristik dan hermeneutik yang dipadukan dengan perspektif multikulturalisme. Data penelitian berupa kata, frasa, kalimat, dan wacana multikulturalisme yang bersumber dari buku kumpulan puisi Luka sebuah Negeri terbitan Yayasan Obor pada 2006. Pengambilan data penelitian ini dilakukan dengan teknik baca, catat, dan sistem kartu data. Seluruh puisi, pertama-tama, dibaca secara heuristik untuk menemukan diksi yang berkaitan dengan wacana keragaman budaya. Hasil pembacaan, kemudian ditandai dan dicatat di kartu data untuk diklasifikasikan berdasarkan budaya nusantara yang terdapat di dalamnya. Data yang sudah dikumpulkan kemudian dianalisis dengan pembacaan hermeneutik dengan perspektif multikulturalisme untuk menemukan bentuk dan makna keragaman budaya nusantara.
References
Al-Ma’ruf, A. I. (2011). “Peran Sastra Multikultural sebagai Media Komunikasi Antarbangsa”. Literasi Jurnal Ilmu-ilmu Humaniora, 1(1).
Danandjaja, J. (1984). Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng dan Lain-lain. Yogyakarta:
Grafiti Pers.
Djami, Erlin Novita Idje (2019) “Ciri Budaya Prasejarah pada Sistem Bercocok tanam Masyarakat Suku Dani di Lembah Baliem”. Balai Arkeologi Jayapura. Papua Vol. 1 No. 2 / November 2009
Dwinanto, Arief, Rini S. Soemarwoto, Miranda Risang Ayu Palar. (2019) “Budaya Sirih Pinang dan Peluang Pelestariannya di Sumba Barat, Indonesia”. Jurnal Patanjala Vol. 11 No. 3 hlm. 363–379. Doi 10.30959/patanjala.v11i3.543
Fatanti, M. N., & Happy, N. (2019). Makna “Kultural Tradisi Marosok”. Jurnal Ilmu Komunikasi, Vol. 16 No. 2, hlm. 161-174. Doi: https://doi.org/10.24002/jik.v16i2.1633
Hurgronje, Snouck. (1996). Gayo : Masyarakat dan Kebudayaan Awal Abad ke-20. Terjemahan Hatta Hasan Aman Asnah. Jakarta: Balai Pustaka
Lu, Yuliana. (2016). “Tradisi Pemakaman dalam Masyarakat Sumba Timur sebagai Pendekatan Kontekstual”. Jurnal Missio Ecclesiae, Vol. 5 No. 2, hlm. 134-152. Doi: https://doi.org/10.52157/me.v5i2.62
Melalatoa, M. Junus. (2006). Luka Sebuah Negeri. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Miles, M.B, Huberman, A.M, & Saldana, J. (2014). Qualitative Data Analysis, A Methods Sourcebook, Edition 3. USA: Sage Publications. Terjemahan Tjetjep Rohindi Rohidi. Jakarta: UI-Press.
Mualit, Thadeus N. (2003).”Beberapa Pola Komunitas Tradisional di Lembah Balim”, dalam Nilai-NIlai Hidup Masyarakat Hubula di Lembah Baliem Papua. Jayapura: Biro Penelitian STFT Fajar Timur.
Parekh, B.(2006). Rethinking Multiculturalism: Cultural Diversity and Political Theory. New York: Palgrave Macmillan
Ratih, Rina. (2016). Teori dan Aplikasi Semiotik Michael Riffaterre. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Riffaterre, Michael. (1978). Semiotics of Poetry. Bloomington: Indiana University Press.
Sahusilawane, F. ed. (1996). Arkeologi Islam Maluku di Kecamatan Leihitu Kabupaten Maluku Tengah. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Balai Arkeologi Ambon
Sapendi, S. (2015). “Internalisasi Nilai-nilai Multikultural dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di Sekolah (Pendidikan Tanpa Kekerasan)”. Raheema, 2 (1), 88–110.
Seda, Eri. (1994) “Beberapa Catatan Mengenai Konfederasi dan Aliansi Pada Masyarakat Baliem di Lembah Baliem Irian Jaya”, dalam Pembangunan Masyarakat Pedesaan, Suatu Telaah Analitis Masyarakat Wamena. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Spradley, J. P. (2007). Metode Etnografi. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Taum, Yoseph Yapi. (2007). Semiotika Riffaterre dalam “Bulan Ruwah” Subagio Sastrowardoyo. Sintesis, 5 (1), 70-87.
Tinambunan, Edison R.L. (2022). “Gondang Batak Toba: Makna Religi dan Implikasinya pada Keagamaan dan Adat”. Jurnal Smart Volume 8 Nomor 2 hlm. 261–273. Doi: 10.18784/smart.v8i2.1775
Ujan, Andre Ata. (2009). Multikulturalisme: Belajar Hidup Bersama dalam Perbedaan. Jakarta: Indeks.
Vidiyanti, M. O., & Yulianto, B. (2019). Pendidikan Multikulturalisme Dalam Puisi Digital Gorontalo Tanah Berdaulat Karya Jamal Rahman Iroth: Kajian Mozaic Analogy Berkson. Telaga Bahasa, 7(2), 173-180.
Widjono AMZ, Roedy Haryo. Masyarakat Dayak Menatap Hari Esok. Jakarta: Grasindo, 1998.
Yusriansyah, E., & Sari, N. A. (2020). The Poem “Dialog Beliatnt” by M. Junus Melalatoa: Study of Semiotic Michael Riffaterre. Prosiding Seminar Nasional Linguistik dan Sastra (SEMANTIKS) (Vol. 2, pp. 441-448).
Downloads
Published
Issue
Section
License
Every works in CaLLs is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
Authors who publish with this journal agree to the following terms:
- Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution License that allows others to share the work with an acknowledgment of the work's authorship and initial publication in this journal.
- Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgment of its initial publication in this journal.
- Authors are permitted and encouraged to post their work online (e.g., in institutional repositories or on their website) prior to and during the submission process, as it can lead to productive exchanges, as well as earlier and greater citation of published work (See The Effect of Open Access).
