Abstract
Air Terjun Tembinus merupakan bentang alam fluvial yang berkembang pada satuan sedimen Formasi Balikpapan yang didominasi oleh batupasir dengan sisipan batulanau dan batulempung. Perbedaan tingkat resistensi litologi terhadap erosi berperan penting dalam mengontrol pembentukan morfologi air terjun, di mana batupasir yang relatif resisten membentuk tebing terjal, sementara litologi berbutir halus berfungsi sebagai zona lemah yang memengaruhi posisi dan bentuk jatuhan air. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kondisi geologi dan geomorfologi kawasan Air Terjun Tembinus serta menilai potensi pengembangannya sebagai kawasan geowisata edukatif melalui pendekatan kuantitatif dan analisis spasial. Metode penelitian meliputi studi literatur, observasi lapangan, analisis geologi, serta pemodelan kelerengan berbasis Sistem Informasi Geografis menggunakan data Digital Elevation Model. Penilaian potensi geowisata dilakukan dengan metode skoring kuantitatif yang mencakup parameter nilai ilmiah, nilai pendidikan, nilai ekonomi, nilai konservasi, dan nilai tambahan, kemudian dianalisis lebih lanjut menggunakan pendekatan SWOT untuk merumuskan strategi pengembangan kawasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan Air Terjun Tembinus didominasi oleh lereng curam hingga sangat curam yang berperan penting dalam pembentukan morfologi air terjun sekaligus meningkatkan potensi bahaya geomorfologi, seperti longsor dan runtuhan batuan. Hasil penilaian kuantitatif menunjukkan bahwa Air Terjun Tembinus memperoleh nilai total sebesar 32,5%, yang mengindikasikan potensi geowisata kategori sedang dengan keunggulan utama pada aspek nilai ilmiah dan pendidikan. Namun demikian, keterbatasan aksesibilitas, minimnya fasilitas pendukung, serta tingginya risiko geomorfologi menyebabkan nilai ekonomi dan konservasi kawasan masih relatif rendah. Oleh karena itu, pengembangan Air Terjun Tembinus direkomendasikan sebagai geowisata edukatif berskala terbatas dengan penekanan pada upaya mitigasi risiko geomorfologi, konservasi geologi, serta penyediaan fasilitas interpretatif.
References
Dowling, R. K., & Newsome, D. (2006). Geotourism. Oxford: Elsevier Butterworth-Heinemann. Huggett, R. J. (2011). Fundamentals of Geomorphology (3rd ed.). London: Routledge.
Kubaliková, L. (2013). Geomorphosite assessment for geotourism purposes. Czech Journal of Tourism, 2(2), 80–104.
Pradhan, B., Oh, H. J., & Buchroithner, M. F. (2010). Weights-of-evidence model applied to landslide susceptibility mapping in a tropical hilly area. Geomorphology, 124(3–4), 310–325.
Van Bemmelen, R. W. (1949). The Geology of Indonesia. The Hague: Government Printing Office.
Badan Geologi. (1995). Peta Geologi Lembar Balikpapan, Kalimantan. Bandung: Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi.
Badan Informasi Geospasial (BIG). (2020). Digital Elevation Model Nasional (DEMNAS). Dowling, R. K. (2011). Geotourism’s global growth. Geoheritage, 3(1), 1–13.