Pemanfaatan Wireless Sensor Network Berbasis Internet Of Things Untuk Monitoring Lahan Gambut Jarak Jauh

Authors

DOI:

https://doi.org/10.30872/jim.v13i1.861

Keywords:

Gambut, Pemeliharaan, Pemantauan, WSN, IoT

Abstract

Lahan gambut di Indonesia tersebar di beberapa pulau, yaitu Kalimantan, Sumatera dan Papua. Kalimantan Selatan merupakan salah satu provinsi yang memiliki lahan sawah dan lahan gambut terbesar di Indonesia, yaitu sekitar 250.000 hektar yang tersebar di beberapa kabupaten. Ada banyak manfaat dari lahan gambut, dua manfaat utamanya adalah kemampuan menyimpan sejumlah besar karbon dan kemampuan untuk menyimpan air hingga 13 kali beratnya. Sayangnya, lahan gambut setiap tahunnya mengalami penurunan, baik dari segi ukuran maupun kualitasnya. Upaya pemulihan telah dilakukan oleh pemerintah dan juga pengamat lingkungan baik Nasional maupun Internasional. Meski begitu, kondisi lahan gambut masih belum bagus. Banyak kendala yang dihadapi seperti luas lahan dan sulitnya lokasi menyebabkan biaya yang dibutuhkan untuk melakukan pengawasan dan pemeliharaan lahan gambut cukup tinggi. Untuk mengembalikan ratusan ribu lahan gambut dibutuhkan triliunan rupiah. Salah satu pendekatan yang dapat dilakukan untuk melestarikan lahan gambut adalah dengan pemantauan lahan gambut secara langsung dan teratur. Khususnya pada musim kemarau, lokasi lahan gambut awal dengan potensi kebakaran bisa dideteksi. Penelitian ini mengusulkan penggunaan Wireless Sensor Network (WSN) berbasis Internet of Things (IoT) untuk pemantauan lahan gambut terpencil. Dalam perkembangannya, diharapkan penelitian ini dapat menghasilkan prototipe peralatan pemantauan nirkabel untuk pemantauan lahan basah terutama lahan gambut.

References

J. Talocchi. 10 Reasons to Save the Indonesian Peat [Online] (2 Jun 2014)

Available at: http://www.greenpeace.org/usa/9-reasons-save-peat-wait-whats/

[Accessed 10 Aug 2017]

Rahmayanti, M., & SI, M. (2007). Kontribusi Kebakaran Lahan Gambut Terhadap Pemanasan Global. Kaunia Jurnal Sains dan Teknologi Vol. III, No. 2, Oktober 2007.

Dewo. Masyarakat dalam Penanggulangan Bencana Asap [Online] (Updated 15 Sep 2015)

Available at: https://bnpb.go.id/home/detail/2577/Masyarakat-dalam-Penanggulangan-Bencana-Asap

[Accessed 5 Aug 2017]

Putra, E. H., Hariyawan, M. Y., & Gunawan, A. (2013). Wireless sensor network for forest fire detection. TELKOMNIKA (Telecommunication Computing Electronics and Control), 11(3), 563-574.

Hariyawan, M. Y., Gunawan, A., & Putra, E. H. (2012). Implementasi wireless sensor network untuk pendeteksi dini kebakaran hutan. Jurnal teknologi informasi dan telematik, 5, 2085-0697.

Nasution, H. R., Fahrudin, A. E., & Harnawan, A. A. (2016). Prototipe Sistem Jaringan Sensor Untuk Monitoring Temperatur-Kelembaban Permukaan Dan Bawah Lahan Gambut Berbasis Database. Jurnal Fisika Flux, 13(1), 69-78.

Azharuddin, M., Kuila, P., & Jana, P. K. (2013). A distributed fault-tolerant clustering algorithm for wireless sensor networks. In Advances in Computing, Communications and Informatics (ICACCI), 2013 International Conference on (pp. 997-1002). IEEE.

Handayani, R., & Siregar, S. (2017). Implementasi Komunikasi Nirkabel 433mhz Menggunakan Apc220 Transceiver Pada Robot Musik Angklung. Jurnal Teknologi dan Sistem Informasi, 3(1), 137-142.

Michal´ık, M. (2013). Base station for Wireless sensor network. Masaryk University. Brno, Czech Republic.

Budiharto, Widodo. "Interfacing Komputer dan Mikrokontroler." Jakarta: Elex Media Komputindo Gramedia (2004)

Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D), (Bandung: Alfabeta, 2013), hal.15.

Downloads

Published

2018-02-08